blog-img

PRAHARA DI KERATON SENGKARA YODA

Muhaimin,S.Pd.M.Si | Cerpen | 26/03/2025

Sri Gading Kuning masih duduk lunglai lemas kesedihannya melumpuhkan seluruh hasrat kabar kematian suaminya menyambar dan menghempaskannya dengan keras.

“ Duryatama..... ! kau telah membunuh suami ku “ suaranya bergetar berat perlahan dia bangun sorot matanya merah menyala tubuhnya bergetar hebat. Kakinya melangkah cepat diambil pedang peninggalan suaminya langkahnya cepat melewati jalan tembusan yang biasa dia lalui bersama Argasedya suaminya saat masih bertugas di balai prajurit keraton Sengkara Yoda. Suaranya lantang dengan pedang di tangan kanan berteriak – teriak mencari Duryatama.

“ Duryatama.....! Jangan kamu sembunyi dibalik prajurit mu hadapi aku Sri Gading Kuning “ layaknya seorang pendekar berdiri menantang, seluruh prajurit siap dalam posisi siaga, Sri Gading Kuning terus berteriak sambil mengayunkan pedang seakan dia siap untuk bertarung.

“ akan aku habisi perusuh yang berani membuat kegaduhan di tempat ini “ Werda Kresta siap berdiri dengan pedang terhunus

“ tahan dulu kang kita tidak boleh gegabah, lihat perhatikan cara dia memegang dan mengayun pedang bukan seorang pendekar yang sakti mendraguna “ Lebuh Segara menekan pundak Werda Kresta

“ lalu kenapa ? secara hukum kita boleh menghabisi perusuh yang masuk ke tempat ini“

“ sungguh memalukan kalau ksatria dengan ilmu Kanuragan dan pedang berkualitas hanya untuk melawan orang yang lemah “ Werda Kresta berdiri tanganya siap menghunus pedang perkataan Lebuh Segara tak digubrisnya dalam pikirannya dengan bertindak keras dan tegas dalam mengamankan junjungannya berharap akan mendapatkan pujian dan kepercayaan yang lebih.

“ semua diam tidak boleh mengambil tindakan yang gegabah “ Duryatama telah berdiri dan berada di tengah – tengah prajuritnya”

“ Secara hukum kita boleh mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang berani membuat kegaduhan di dalam keraton tapi gunakan otak analisa secara mendalam sentuh hati perlu kah ini kita lakukan “ semua prajurit diam menunggu perintah

“ kamu Lebuh Segara atasi keadaan dan tak boleh ada darah yang menetes “ Lebuh Segara berdiri hormat dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan, langkahnya mantap menuju ke tempat Sri GadIng Kuning yang masih berteriak – teriak memanggil Duryatama untuk keluar.

“ mbak yu Gading Kuning paduka Duryatama mempersilahkan mbak yu masuk dengan sopan dan mohon pedangnya untuk di sarungkan “ Lebuh Segara menyapa sopan mengajak Sri Gading Kuning untuk menemui Duryatama

“ mana Duryatama suruh ke sini jangan sembunyi, minggir kamu “ Lebuh Segara tetap tenang walaupun dihadapkan pada situasi genting

“ kalau kamu tidak mau minggir jangan salahkan pedang ini “ Sri Gading Kuning siap mengarahkan pedangnya ke dada Lebuh Segara

“ tenang mbak yu jangan terbawa emosi “ suara Lebuh Segara tertahan ketika Sri Gading Kuning mengayunkan pedang dengan cepat dan bagi Bayu Segara bukanlah hal sulit menangani ayunan pedang Sri Gading Kuning dia mengelak sedikit dan menyentilkan jarinya dipergelangan tangan Sri Gading Kuning “ praks “ lepas pedang dari tangan Sri Gading Kuning

“ maaf mbak yu aku melakukan ini “ Lebuh Segara memegang dua tangan Sri Gading Kuning ke belakang. Dengan kedua tangan terkunci Sri Gading Kuning tidak bisa bergerak dan menurut saja di bawa menghadap panglima Duryatama matanya membelalak melihat Duryatama yang berdiri di hadapannya.

“ Lepaskan pegangan mu Lebuh Segara dan antarkan dia ke bale persinggahan tugaskan dua dayang untuk menemani dan melayani “

“ sendhiko Dhawuh “ Lebuh Segara melepaskan tangan Sri Gading Kuning untuk mengantarkannya ke bale persinggahan, Duryatama mempersilahkan dengan sopan dan memberikan jalan menuju ke bale persinggahan saat Sri Gading Kuning melewati Duryatama tidak ada yang mengira tiba tiba Sri Gading Kuning mengambil keris kecil yang disembunyikan dibalik kembennya secepat itu pula mengarahkan ke perut Duryatama.

“ Duryatama ini balasan untuk suamiku “ Duryatama tersentak kaget tangannya dengan cepat menepis dan merebut keris yang mengarah ke perutnya dan “ brukss “

“ akhhh...... aduh..... “ Duryatama tidak mengira Sri Gading Kuning melakukan tindakan nekat menabrakan tubuh nya pada keris yang dia pegang, tangannya bergetar menopang tubuh Sri Gading Kuning yang lunglai lemas darah pun mengucur deras dari perut Sri Gading Kuning, perlahan matanya di buka dan mulutnya bergerak.

“ Duryatama maafkan aku, kamu orang baik berjiwa ksatria tolong didik anak ku agar kelak seperti mu “ setelah itu perlahan matanya menutup dan tak bergerak lagi. Duryatama ksatria gagah perkasa hatinya peluh wajahnya kuyu air matanya mengalir  beribu penyesalan ia tumpahkan tangannya telah berlumuran darah dari wanita yang tidak berdaya perlahan dia bangun menatap seluruh prajurit yang diam menyaksikan kejadian yang tidak terduga.

“ wahai prajurit kalian telah menyaksikan peristiwa yang tidak aku inginkan ceritakan dan katakan yang sesungguhnya jangan menambah atau mengurangi hanya untuk kepentingan diri sendiri” Duryatama menghela nafas sebentar

“ aku Duryatama bertanggung jawab atas semua yang terjadi dan dua Minggu ke depan saya akan melakukan pembersihan diri mohon maaf dan minta petunjuk kepada yang maha kuasa agar ke depan tidak mengulangi perbuatan salah lagi “ setelah dia mengatur semuanya lalu bergegas masuk dan mengurung diri di Paseban peristirahatan.

Kategori Seni Budaya

Populer