blog-img

Nyanyian Memanggil Cinta Sejati

Muhaimin,S.Pd.M.Si | Cerpen | 05/08/2023

Ku ingin

Kau Kembali Bersamaku

(Nyanyian memanggil kekasih untuk Kembali Bersama)

 

 

Suryadi duduk wajahnya menengadah memandang jauh sampai ujung ufuk. Dipandanginya  sinar yang  menjilat-jilat sebelum benar-benar hilang ditelan kelelahan setelah sepanjang hari menyengat bumi,.

 “Ini salah ku,” hatinya merintih pedih menyesali apa yang telah dia lakukan.

 “Mengapa aku harus jatuh cinta padamu, Lastri?“ Ucapnya lirih.

Matanya menatap kosong pada kegelapan malam yang perlahan menutup bumi, gelap. Benar-benar gelap, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lastri lenyap bagai ditelan bumi. Suryadi memejamkam mata, masih sangat jelas saat terakhir mereka bertemu.

Suryadi berdiri, pandangannya tertuju pada arah pondok kecil diantara belukar. Hatinya masih berharap ada Sulastri di situ, walaupun itu tak mungkin.

Sudah berhari-hari Suryadi melakukan hal yang sama, tapi hasilnya kosong melompong. Langkahnya terseok lemah menaiki pondok, tangannya memegang bambu penyangga agar tak terjatuh.

Sudah hampir enam hari Sulastri hilang tak ada kabar, dan sejak itulah Suryadi lupa makan, lupa tidur, pikirannya kacau, tubuhnya pun nampak 

lemah, raut wajahnya kuyu dan sayu. Dia ingat saat ayahnya marah besar setelah tahu hubungan cinta Suryadi dan Sulastri masih berlanjut.

“Ternyata kamu lebih memilih Sulastri dibanding harta warisan yang nanti aku wariskan, dasar anak edan!“ Ucap Kardiman sembari buang muka.

Suasana hening, kepulan asap cerutu memenuhi ruang semakin menyesakkan dada. Suryadi yang tetap diam duduk tertunduk tak berani menatap ayahnya.

“Kamu tahukan ini ayahmu? Kardiman lanang-lanange jagad, segala keinginannya tak terbantahkan  termasuk ketidaksukaanku atas hubunganmu dengan Sulastri.“ 

Kardiman berdiri, dia memandang Suryadi anak satu-saatunya itu. Langkahnya pelan mendekat, Suryadi masih tetap diam dan pasrah. Apa pun yang akan dilakukan ayahnya, dia sudah siap menerima. Kardiman membungkuk, tangannya mengangangkat dagu Suryadi, kedua mata antara ayah dan anak saling bertatap.

“Tinggalkan Sulastri, atau Sulastri yang akan meninggalkanmu?Suara Kardiman penuh dengan ancaman. Sesaat dia menatap tajam anaknya, lalu pergi meninggalkan Suryadi yang tetap diam mematung. Dirinya tak habis pikir 

mengapa ayahnya sangat membenci Sulastri, wanita yang sangat dicintainya.

Kelelahan yang mendera melumpuhkan logika. Suryadi terlalu hanyut dalam pikiran-pikiran kosong yang selalu berharap Sulastri dalam keadaan baik dan akan segera kembali pada nya.

***

Kardiman orang terkaya yang sangat disegani. Pengaruhnya sangat luas, tidak ada satupun orang yang berani menentang perintahnya, apalagi menghalanginya. Jika ada, orang-orang Kardiman akan melibas dengan bringas. Kardiman membayar dengan mahal. Dia memanjakan orang-orang suruhannya dengan uang, wanita, judi dan kesenangan lain.

Seperti pada malam ini, Kardiman mengundang Tayub dengan penari-penari cantik nan menggoda. Setelah pertunjukan selesai, orang-orangnya dipersilakan memilih penari yang disukai untuk bersenang-senang, tentu tak ketinggalan Kardiman juga akan memilih penari yang paling menggoda.

Tersiar kabar, jika malam ini di rumah Kardiman akan menggelar Tayub dengan salah satu penari termahal yang belum pernah manggung di rumah Kardiman. Tak biasanya Kardiman mengundang penari jauh dari luar desa.

Malam yang meriah, pertunjukan belum dimulai tapi suasana sudah sangat ramai. Penerangan lampu dari bambu sudah dipasang begitu banyak di setiap sudut pelataran rumah. Kaum lelaki sudah menyiapakan uang saweran untuk sekadar dapat menari bersama.

Riuh suasana hingar bingar pertunjukan yang sudah dimulai. Suara paduan gamelan kendang yang kadang lembut mendayu, kadang keras menghentak, penonton serasa terhipnotis. Tangan, kaki, kepala, bergerak mengikuti irama. Mata memandang penuh gairah para penari yang meliuk-liuk nan eksotis, seolah mengajak para lelaki untuk turun dan menari bersama. Kardiman keluar rumah bersama Suryadi, anak lelaki satu-satunya yang merupakan pewaris seluruh harta kekayaannya. Mereka berjalan pelan menuju tempat duduk yang telah disiapkan. 

"Kau akan memasuki dunia laki-laki anakku.Senyum Kardiman puas melihat anak laki-lakinya tampil gagah memesona malam ini. Dia berharap Suryadi akan menjadi lelaki kuat, tidak menjadi lembek hanya karena persoalan wanita. 

Geliat malam merontokkan kekokohan jiwa menjadi rapuh. Nafsu dan uang bertransaksi mencari kesesuaian, satu persatu penari menghilang bersama pasangannya dari pelataran pertunjukan. Sepertinya pertunjukan sudah 

selesai, tapi penonton belum beranjak pergi. Mereka masih menunggu Sundari, penari yang jarang tampil karena tidak sembarang orang sanggup mengundangnya. Sundari bukan penari murahan. Dia tidak akan menerima ajakan lelaki yang tidak cocok dengan hatinya, meskipun bayarannya tinggi. Termasuk Kardiman yang sampai saat ini belum bisa mengajak Sundari menghabiskan malam di akhir pertunjukan.

Setelah berhenti sesaat, kini irama gamelan dan kendang mulai terdengar. Suara riuh mendadak hening, semua mata tertuju pada Sundari. Sosok perempuan yang mulai menari dengan gemulai, sangat serasi dengan ke elokan tubuhnya yang dibalut kain kemben ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya membuat kaum lelaki tergah-engah menelan ludah.

"Kau mulai menikmati pertunjukan ini anakku?" Kardiman bertanya lirih seraya melirik  Suryadi yang mulai hanyut mengikuti gerakan tari.

"Sebentar lagi kau akan menjadi lelaki sejati."

Kardiman tersenyum dalam batinnya. Dia sangat berharap Suryadi akan menjadi lelaki yang kuat, terhormat, banyak digandrungi wanita seperti dirinya. Kardiman menghisap cerutunya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya seperti cerobong asap. Suryadi batuk-batuk kecil, matanya agak pedes, dadanya sesak. Asap cerutu 

Kardiman membuat kepala Suryadi pening, hilang kesadaran nalar, hanyut dalam alunan gamelan dan tarian Sundari.

"Ayo anakku, ikutlah menari. Tunjukkan pada semua orang kau lelaki sejati.

Kardiman berdiri, kedua tanganya mempersilakan Suryadi untuk segera bediri. Sundari tersenyum menggoda. Matanya menatap sejuk menusuk ke dalam hati Suryadi. Selendangnya pun sudah dikalungkan di leher Suryadi. Perlahan Suryadi berdiri mengikuti tarikan selendang, dan kini mereka sudah berdiri. Keduanya menari bagaikan sejoli yang sedang memadu kasih, sampai pada akhir pertunjukan hanya tinggal keheningan menelan malam dengan pelataran yang kosong.

 

***

Sundari perlahan melepaskan selendang dari leher dan menggantikannya dengan kedua tangan yang memeluk Suryadi. Wajahnya mendekat, nafasnya mendesah lembut memberi sentuhan hangat ke telinga dan leher. Sejenak  Sundari mengamati wajah Suryadi. Ketampanan lelaki di depannya itu membuat hati berdesir, meski wajahnya kelihatan lesu karena kurang tidur. Degup jantungnya semakin cepat, ada gelenyar aneh yang menjalar di tubunya saat sentuhan tangan 

Suryadi secara lembut menyentuh bagian-bagian sensitifnya. Sundari menenggelamkan tubuh semakin dalam, rintihan dan geliat membawa kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.

Kang…! Aku lepas dulu.“ Sundari mendorong  tubuh Suryadi dengan pelan, lalu dia melepas pernik-pernik tari yang dia pakai. Malam ini, dia akan menyerahkan dirinya pada Suryadi lelaki yang baru dikenalnya.

Kau… kau…. kah itu…..?“ Suryadi berdecak gembira. Matanya nanar binar penuh kegembiraan, dipeluk erat wanita yang ada didepannya. Nafasnya kembali memburu, tanganya kembali bermain nakal pada bagian tubuh sensitif yang sudah terbuka. Sentuhan-sentuhan Suryadi dibalas Sundari dengan bisikan yang semakin membuat Suryadi hanyut hingga tak mampu lagi mengendalikan diri.

“Di gelapnya malam, hingga pagi datang, aku akan menjagamu. Tak ada yang bisa menyentuhmu. Jiwa telah menyatu dalam kesetiaan cinta, bulan menjadi saksi akan kesetiaan, aku datang untuk melindungimu. Akan aku koyak siapa pun yang mencoba membuatmu menderita.

Suara lagu terdengar remang, lama-lama semakin jelas. Suryadi terhentak matanya menatap tajam memastikan siapa wanita yang sedang bergumul 

dengannya. Dia memundurkan tubuh menjauh, dilihatinya tubuh yang hampir tanpa penutup. Suryadi masih bingung dengan apa yang terjadi.

Kau bukan Sulastri, maaf aku telah berbuat di luar batas.

Wajahnya menunduk penuh penyesalan. Ada rasa bersalah yang membuat Suryadi tak berani memandang wanita itu. Suryadi masih bingung dengan kejadian yang begitu mendadak.  Suasana hening nyanyian entah dari mana tidak terdengar lagi. Sundari sudah kembali sadar dengan apa yang terjadi.

Kau datang dari alam yang jauh, antara kita ada batas yang tak mungkin kau jamah.Ucap Sundari lirih.

Dia berbicara seakan melihat sesuatu di luar jendela, langkahnya pelan mendekati jendela. Kini jelas dalam tatapan Sundari sosok wanita yang mirip dengannya menatap tak suka.

Aku tak tahu kau siapa, sekarang pergilah kembali ke duniamu.“ 

Ternyata Sundari bukan gadis biasa, dia sudah memiliki ilmu batin dan pertahanan diri dari gangguan metafisik. Tak ada sepatah kata yang terucap dari sosok wanita yang dia ajak bicara, hanya matanya sembab terisak menahan kesedihan. Sundari sangat tersentuh melihatnya, 

tapi dia tak mengerti ada apa dengan gadis yang mirip dengan dirinya itu.

“Aku ingin kau kembali bersamaku, melanjutkan kehidupan dulu kala. Kita bersama dalam cinta, walau sekarang aku hidup sendiri mengelana dalam remang malam. Aku ingin kau kembali bersamaku bersama anak kita, meski kau tak tahu. Dia selalu menangis saat melihatmu ingin segera bersama dalam alam jelang senja. Aku ingin kau kembali bersamaku, aku tak sanggup menanggung sepi sendiri, juga tak mau menyakiti dirimu. Cepatlah kau mati bunuh diri, mari kita hidup bersama lagi.”

Nyanyian ratapan kembali terdengar dari sosok yang mirip dengan Sundari. Matanya berkaca-kaca, rambutnya yang terurai dibiarkan berjuntai melambai mengikuti langkah yang menjauh, lalu hilang dalam gelap malam. Sundari lama memandang kegelapan malam sebelum beranjak dan duduk di samping Suryadi.

Malam ini tidurlah bersamaku, walau kita dalam hati dan pikiran sendiri-sendiri,pinta Suryadi. Dia tidak ingin ayah  atau pun orang lain tahu kejadian dia bersama Sundari.

Kamu cantik, aku suka. Tapi aku tak bisa melakukan seperti laki-laki lain.“ Suryadi berkata dengan suara berat sembari menggeser tempat duduknya lebih dekat. Hal itu menandakan bahwa 

ada tekanan berat, mengapa Suryadi tidak seperti laki-laki normal.

“Mas Suryadi, ayo… kita tidur. Ndari akan menemani sampai mas terlelap.

Sundari merebahkan diri menata bantal, lalu menarik tangan Suryadi.  Dia menutupi tubuh Suryadi dengan selimut seperti  seorang ibu menidurkan anaknya. Sundari menjaga jarak agar tidak mengganggu laki-laki yang walau sebentar telah memberi kebahagiaan, dan dia akan berusaha untuk meraih dan mempertahankan kebahagiaan dari Suryadi. Sundari menatap langit-langit kamar menerawang jauh, mata batinnya bisa membaca bahwa Suryadi punya ikatan cinta dengan sosok wanita astral, sosok wanita tersebut mengikat kuat Suryadi agar tak berpaling dengan wanita lain.

“Saya akan melepaskanya, kau lelaki baik dengan hati bersih, cintamu tulus tapi tak bisa diteruskan.Di sepertiga malam tersisa, akhirnya Sundari tertidur bersama laki-laki yang membuat hatinya nyaman.

Kategori Seni Budaya

Populer